Sabtu, 24 Desember 2011

Merancang Penelitian Kuantitatif


Menentukan objek penelitian dalam perancangan penelitian kuantitatif adalah suatu hal yang penting. Objek penelitian adalah sesuatu yang diteliti dalam penelitian. Objek penelitian tidak sama dengan variabel, misalnya: variabel yang diukur adalah “kinerja” berarti objeknya adalah organisasi (populasi) dan individu atau anggotanya (sampel). Objek penelitian terdiri dari populasi dan sampel. Beberapa individu yang berpartisipasi dalam penelitian dinamakan partisipan. Dalam suatu kelompok, partisipan biasanya dugunakan sebagai suatu sampel. Sampel yang diambil dari kelompok yang lebih besar biasa disebut populasi.
Pengambilan sampel dibagi dalam dua metode sampling yaitu: (1) probabilitas sampling , dan (2) non-probabilitas sampling. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai populasi dan pengambilan sampel.

1.        Populasi
Populasi adalah sekelompok elemen atau kasus, baik itu individual, objek atau peristiwa yang berhubungan dengan kriteria spesifik dan merupakan sesuatu yang menjadi target generalisasi dari hasil penelitian.
Seorang peneliti harus dapat menentukan secara lengkap dan hati-hati populasi target dan kerangka sampling yang akan diteliti. Hal ini dimulai dengan masalah penelitian yang didukung dengan sumber literatur atau pustaka, dimana populasi dipandang secara konseptual atau dalam tataran yang lebih luas.

2.       Probabilitas Sampling
Probabilitas sampling adalah pengambilan sampel dari suatu populasi atau populasi dari populasi yang lebih besar dengan sejumlah cara dimana probabilitas pemilihan anggota populasi diketahui. Probabilitas sampling dilakukan untuk mendapatkan kebenaran dalam suatu populasi melalui kelompok yang lebih kecil secara efisien.
Beberapa metode probabilitas sampling dapat digunakan untuk menggambarkan sampel yang tidak bias dari suatu populasi. Masing-masing metode menggunakan beberapa tipe random sampling, dimana masing-masing populasi mempunyai peluang yang sama untuk terpilih. Probabilitas sampling yang biasa digunakan dalam penelitian adalah: random sampling sederhana, sampling sistematik, random sampling bertingkat, dan sampling kelompok.

3.       Non Probabilitas Sampling
Probabilitas sampling biasanya tidak sesuai dengan penelitian yang bersifat eksperimental maupun semi eksperimental, sampling ini juga tidak mampu memilih subjek dari kelompok yang lebih besar. Non probabilitas sampling tidak menggunakan random sampling jenis apapun. Peneliti biasanya menggunakan objek yang mudah didatangi atau yang merepresentasikan sejumlah karakteristik. Jenis non probabilitas sampling yang sering digunakan adalah: sampling berkesesuaian, sampling bertujuan khusus, dan sampling kuota.

A.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara mengumpulkan informasi tentang variabel-variabel yang akan diteliti dalam penelitian. Peneliti memilih teknik dan pendekatan dalam pengumpulan data. Masing-masing metode memiliki kelemahan dan kelebihannya tersendiri, dan pendekatan spesifik yang diambil sebaiknya merupakan metode tebaik guna menjawab pertanyaan penelitian. Berikut ini adalah beberapa metode yang biasa digunakan dalam mengumpulkan informasi atau data kuantitatif :

1.        Test
Test dapat diartikan sebagai seperangkat pertanyaan standar yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu yang diberikan pada setiap subjek (individu yang berpartisipasi dalam penelitian) dalam bentuk tertulis (kertas, lembar jawaban komputer atau test dengan media komputer) yang menuntut penyelesaian tugas kognitif. Respon atau jawaban kemudian dirangkum untuk mendapatkan nilai angka yang mencerminkan karakteristik dari subjek tersebut. Tugas kognitif yang diberikan dapat difokuskan pada pengetahuan subjek, kecakapan atau bakat, hobi, perilaku, bakat atau keterampilan. Jenis test berbeda-beda tergantung kebutuhan atau pencapaian yang diinginkan peneliti, misalnya :
1)   Test yang terstandarisasi. Hasil dari test ini biasanya sudah dapat diperkirakan oleh peneliti, karena sebelumnya sudah diperhitungkan tingkat validitas dan reliabilitasnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga akurasi data. Test yang terstandarisasi memberikan prosedur yang seragam untuk mengelola dan menilai instrumen. Pertanyaan yang sama diajukan setiap kali test digunakan, dengan serangkaian petunjuk yang menjelaskan bagaimana tes itu harus diberikan.
2)  Test bakat. Tujuannya adalah untuk memperkirakan kemampuan objek (individu yang di test) dimasa mendatang. Hasilnya digunakan untuk membuat prediksi tentang kemampuan untuk beberapa kriteria (peringkat, efektivitas mengajar, sertifikasi, atau skor test) sebelum instruksi, penempatan atau pelatihan. Test bakat ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang potensi alami suatu individu, sedangkan kebalikan dari test bakat adalah test kecerdasan atau kemampuan. Test kecerdasan atau kemampuan menyediakan pengukuran yang sangat umum, karena sangat umum, maka test kecerdasan atau kemampuan berguna untuk memperkirakan ragam tugas yang banyak.
Interpretasi hasil test dibagi dua, yaitu : (1) interpretasi berdasarkan norma; (2) interpretasi berdasarkan kriteria.
Interpretasi berdasarkan norma tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana skor individu dibandingkan dengan skor dari referensi yang ditetapkan dengan baik atau norma kelompok individu. Karena tujuan penelitian adalah untuk mebedakan antar individu, maka distribusi skor yang paling baik adalah yang memperlihatkan variasi yang banyak. Contohnya, penggunaan istilah “nasional” dalam test yang terstandarisasi berdasarkan norma, banyak yang mengidentifikasikan bahwa norma “nasional” itu sama, dengan mengesampingkan fakta bahwa istilah “nasional” mengarah pada interpretasi yang berbeda. Misalnya membandingkan skor pelajar yang berbakat dengan norma nasional, kesempatannya bagus untuk seluruh pelajar berbakat mendapatkan skor yang tinggi dan memperlihatkan variabilitas yang rendah. Kondisi tersebut yang disebut efek langit-langit (ceiling efect) dan sebuah jangkauan tertutup, yang pada gilirannya akan mengarahkan pada hasil yang tidak signifikan.
Interpretasi berdasarkan kriteria dilakukan dengan cara membandingkan skor tiap individu, sedangkan interpretasinya dilakukan dengan membandingkan skor dengan standar kemampuan yang dinilai secara profesional. Perbandingan ini adalah antara skor dengan sebuah kriteria atau standar skor lain. Variabilitas yang diperoleh lebih rendah dari interpretasi berdasarkan norma. Hasil interpretasi ini biasa dinyatakan dalam persentase dan biasa digunakan untuk mengkategorikan subjek kedalam kelompk batas gagal.

2.       Questioner
Qustioner adalah teknik yang digunakan secara luas untuk memperoleh informasi dari subjek. Questioner relatif ekonomis, memuat pertanyaan yang sama bagi seluruh subjek dan dapat memastikan kerahasiaan subjek. Qustioner dapat menggunakan pertanyaan dan pernyataan yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian.
Langkah-langkah dalam membuat qustioner dijelaskan sebagai berikut :
1)   Justifikasi. Sebelum menggunakan teknik ini, peneliti harus yakin bahwa berdasarkan kondisi yang ada, tidak ada teknik lain yang lebih reliabel dan valid untuk digunakan. Keputusan ini berdasarkan pada pengetahuan akan kekuatan dan kelemahan dari teknik yang akan digunakan;
2)  Menetapkan sasaran. Setelah memutuskan teknik yang akan dipakai, peneliti membuat daftar sasaran khusus dari informasi yang akan didapat. Sasaran yang dibuat berdasarkan pertanyaan atau masalah penelitian, dan sasaran memperlihatkan bagaimana bagaimana setiap bagian informasi akan digunakan.
3)  Menulis pertanyaan dan pernyataan. Babbie (1998) dalam McMillan dan Schumacher (2001:258-259) menyimpulkan panduan untuk menulis pertanyaan atau pernyataan yang efektif :
a)   Buat pertanyaan dan pernyataan sejelas mungkin;
b)  Hindari pertanyaan yang mempunyai dua ide atau gagasan;
c)   Responden harus kompeten untuk menjawab;
d)  Pertanyaan harus relevan dengan kebutuhan dan maksud dan tujuan penelitian;
e)   Pertanyaan dan pernyataan yang terbaik adalah yang pendek dan sederhana, mudah dimengerti responden dan peneliti;
f)    Hindari pertanyaan dan pernyataan yang negatif;
g)   Hindari pertanyaan dan pernyataan yang menggunakan istilah bias.
4)  Mengkaji ulang (review) pertanyaan dan pernyataan yang telah ditulis.
5)   Menyusun format umum questioner. Membuat tampilan dan menyusunan questioner sangat penting untuk diperhatikan. Apabila hal ini dilakukan dengan asal-asalan atau ceroboh, maka responden akan mengabaikannya dan tidak akan pernah merespon. Sebuah format dan tampilan yang baik akan membuat kesan pertama yang menarik dan akan menghasilkan kerjasama dan keseriusan responden. Peraturan dalam menyusun format questioner yang baik, sebagai berikut:
a)   Periksa grammar, pengejaan, tanda baca, dan detail lainnya dengan baik;
b)  Pastikan hasil print-out jelas dan mudah dibaca;
c)   Buat instruksi yang jelas dan mudah dimengerti.
6)  Uji coba. Sangat dianjurkan bagi para peneliti untuk melakukan uji coba qustioner sebelum digunakan. Akan lebih baik jika memilih subjek atau responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan subjek atau responden yang akan diuji;
7)   Evaluasi. Sangat dianjurkan untuk melakukan evaluasi terhadap hasil uji coba, karena evaluasi berguna untuk mengetahui kesalahan yang dibuat dan bagaimana cara mengatasinya. Hal ini tentu saja akan meningkatkan kualitas dari questioner yang dibuat oleh peneliti.

3.       Wawancara
Wawancara dalam kajian kuantitatif secara esensial memiliki kesamaan dengan questioner, langkah-langkah penyusunannya pun sama : (1) justifikasi; (2) menetapkan sasaran; (3) menulis pertanyaan dan pernyataan; (4) mengkaji ulang; (5) menyusun format umum wawancara; (6) uji coba; (7) evaluasi. Perbedaan yang jelas terlihat pada penyajiannya, wawancara melibatkan interaksi antar individu (peneliti dan responden) sedangkan questioner tidak. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri.
Teknik wawancara sifatnya fleksibel dan mudah diadaptasi untuk berbagai situasi dan kondisi. Teknik ini dapat digunakan dalam beberapa permasalahan dan tipe orang yang berbeda-beda. Misalnya untuk tipe orang yang tidak bisa membaca atau terlalu muda untuk membaca dan menulis, dan responnya dapat diperiksa, dilanjutkan, diklarifikasi, dan dielaborasi untuk mendapatkan respon yang akurat dan spesifik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sound Government

Konsep  Sound Governance  berkaitan dengan reformasi birokrasi telah dikemukakan oleh Farazmand (2004). Dalam konteks  Sound Governance,  r...