Jumat, 23 Desember 2011

Penelitian Tentang Manajemen Madrasah


Sebagai bahan pembanding, peneliti melakukan kajian terhadap penelitian terdahulu yang dianggap memiliki relevansi dengan penelitian yang sedang dilaksanakan. Beberapa hasil penelitian terdahulu, antara lain sebagai berikut:
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Djaelani AR, Disertasi pada Progam Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dengan judul Profil Pembinaan Kemampuan Profesional Guru pada Gugus SD Inti Kotamadya Banda Aceh (Efektifitas Penataan Iklim Sekolah yang Kondusif bagi Pemberdayaan Guru, Peningkatan Semangat Belajar Guru, dan Kerjasama dengan Masyarakat oleh Para Pengawas dan Kepala Sekolah Ditinjau dari Sudut Manajemen).
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menghimpun data tentang profil pelaksanaan sistem pembinaan profesional guru pada gugus SD inti Kotamadya Banda Aceh. Adapun yang menjadi titik sentralnya adalah penataan kondisi sekolah yang konduktif untuk pemberdayaan guru, penumbuhan budaya belajar pada guru-guru, dan peningkatan kerjasama dengan masyarakat.
Pengumpulan data secara naturalistik dilaksanakan selama enam bulan, dengan respondennya para pengawas, kepala sekolah, tutor, guru-guru, dan pejabat terkait lainnya, dengan teknik pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Wawancara dilaksanakan secara terus menerus, dengan mengunjungi para responden di sekolah, kantor, dan bahkan ada yang dirumahnya dalam suasana bebas dan informal sampai data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian terpenuhi.
Pembahasan hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa, dilihat dari mekanisme pelaksanaannya kegiatan pembinaan profesional guru yang dilaksanakan pada gugus SD Inti masih bersifat “pengawasan dan bimbingan rutin” untuk mengatasi hambatan tersebut guna meningkatkan efektivitas sistem pembinaan profesional guru, perlu dilakukan upaya-upaya konkrit seperti profesionalisasi tenaga pembina pendidikan, penyusunan perencanaan pengembangan karir guru, deskripsi tugas pengawas dan kepala sekolah, dan sebagainya.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Tjutju Yuniarsih, Disertasi pada Progam Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dengan judul Kontribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Manajemen Mutu Sekolah Dasar (Kajian tentang Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar dalam Melaksanakan Manajemen Mutu Sekolah Dasar di Kota Administratif Cimahi).
Sejalan dengan fokus masalah yang dikemukakan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi perilaku kepemimpinan Kepala Sekolah dalam melaksanakan Manajemen Mutu Sekolah Dasar. Nilai-nilai yang tercermin dari perilaku tersebut pada akhirnya akan membentuk profil kepemimpinan Kepala Sekolah. Keberhasilan pendidikan di Sekolah Dasar merupakan langkah awal yang baik untuk mengantarkan lulusannya, agar bisa menampilkan keunggulan dirinya sebagai sosok yang tangguh, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, dan propesional. Rendahnya mutu pendidikan di Sekolah Dasar sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan di jenjang sekolah berikutnya dan bahkan akan berakibat buruk bagi mutu pendidikan nasional. Penelitian ini dilandasi oleh premise sebagai berikut:
1.    Kepala Sekolah merupakan tenaga profesional yang berwenang untuk memajukan dan mengembangkan sekolah, sehingga mampu menghadapi suasana kompetitif.  
2.    Empat tahapan perkembangan sekolah, yaitu; selfidenfication stage, developing stage, stabilization stage, and maturity stage.
3.    Manajemen Mutu merupakan proses yang berlangsung melalui program jangka panjang, dan bertujuan untuk mencapai customers and stake holders satisfaction. Dalam implementasinya berorientasi pada quality standard, zero defects, change, and continuous improvement.
4.    Output Manajemen Mutu Sekolah Dasar dilihat dari prestasi sekolah secara keseluruhan, hubungan baik dengan masyarakat, kinerja personil, serta mutu proses dan hasil pembelajaran murid.
Berdasarkan kajian teoritis, Manajemen Mutu Sekolah Dasar mencakup delapan faktor strategis, terdiri dari: kepemimpinan Kepala Sekolah, tenaga kependidikan, sarana/prasarana, manajemen keuangan, evaluasi kurikulum dan tujuan pengajaran, strategi dan policy, sistem organisasi, serta sistem informasi manajemen. Metode penelitian yang cocok untuk mengkaji masalah di atas ialah pendekatan kualitatif-naturalistik. Setiap komponen Manajemen Mutu Sekolah Dasar dianalisis dan diinterprestasikan secara reduktif, agar memberikan makna yang mendalam. Lokasi penelitian mencakup enam SDN di Kotif Cimahi, yang mewakili klasifikasi: baik, sedang dan kurang.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan Kepala Sekolah masih menunjukkan profil formalistik-birokratik yang sangat kental, kecuali pada Sekolah Dasar baik, mulai tampak upaya untuk menciptakan etos kerja yang berorientasi pada budaya mutu. Pergeseran profil kepemimpinan harus diawali oleh keberanian Kepala Sekolah untuk bertindak tegas sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, serta didukung oleh keterbukaan dan kebersamaan dalam memberdayakan SDM. Berdasarkan temuan diatas, direkomendasikan agar Kepala Sekolah menerapkan gaya Kepemimpinan kontingensi dengan mengutamakan teknik partisipasi-interaktif. Rekomendasi lain diarahkan untuk menggugah para peneliti lain, agar meneliti MMS dalam wilayah kajian yang lebih luas.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Yusuf Hadijaya, Disertasi pada Program Pascasarjana Universitas Islam Nusantara, dengan judul Strategi Peningkatan Kinerja Pengawas Dan Kepala Madrasah Aliyah Di Kabupaten Tapanuli Tengah  (Penelitian Kualitatif Tentang Manajemen Personil Pendidikan Di Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara).
Latar belakang dari penelitian tersebut adalah bahwa mutu proses penyelenggaraan pendidikan yang sistemik dan akuntabel di Madrasah Aliyah terutama sekali ditentukan oleh kinerja Pengawas dan Kepala Madrasah Aliyahnya. Agar kinerja dari Pengawas dan Kepala Madrasah Aliyah ini dapat meningkat, maka diperlukan strategi yang tepat. Oleh karena itu strategi peningkatan kinerja Pengawas dan Kepala Madrasah Aliyah di Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan masalah yang perlu diteliti. Peran manajemen personil adalah mengelola semua sumber daya yang dimiliki organisasi untuk mencapai tujuan organisasi, namun penekanan peran manajemen personil adalah pada aspek yang dimiliki organisasi. Pengembangan personil sebagai suatu proses merekayasa perilaku kerja pegawai sedemikian rupa sehingga personil dapat menunjukkan kinerja yang optimal dalam pekerjaannya. Untuk menghasilkan mobilisasi yang masif pada orang dan sumber daya, sebuah organisasi membutuhkan pemikiran strategik yang unggul yang mengintegrasikan secara hati-hati pengendalian manajemen, komunikasi dan informasi, motivasi dan penghargaan.
Proses manajemen strategik dapat digambarkan sebagai pendekatan yang objektif, logis, dan sistematik untuk membuat keputusan yang memiliki dampak jangka pendek dan panjang bagi organisasi. Proses ini berusaha untuk mengelola informasi kuantitatif dan kualitatif yang dibutuhkan bagi pengambilan keputusan efektif dalam kondisi yang tidak menentu. Strategi dapat memberikan sumbangan yang sangat bermanfaat terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan. Proses penilaian kinerja merupakan suatu aktivitas yang dirancang untuk membantu para personil untuk mencapai tujuan organisasi dan individu sebagai keuntungan organisasional. Jika demikian, maka strategi dapat digunakan dalam manajemen pengembangan personil, karena kinerja sebagai bagian dari manajemen personil merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perencanaan strategik suatu organisasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena lebih tepat dalam mengungkap gejala-gejala, informasi-informasi, atau keterangan-keterangan yang berkenaan dengan hasil pengamatan selama berprosesnya penelitian. Tempat penelitian ini dilaksanakan di Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara dan di MAN Pandan, MAS Pinangsori, dan MAN Barus. Kebijakan kontrak prestasi merupakan kebijakan atas inisiatif Bidang Mapenda di Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara sendiri yang dibuat dan dikeluarkan untuk membuat strategi pengembangan Kepala Madrasah Aliyah bekerja. MAN Pandan menerapkan strategi pengembangan madrasah berkelanjutan. MAN Barus menerapkan strategi menjalankan prosedur. MAS Pinangsori menerapkan strategi bertahan sambil berusaha terus untuk berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin baik pemahaman personil pendidikan terhadap penerapan proses manajemen strategik, semakin baik kinerjanya.
Berdasarkan beberapa kajian terhadap penelitian terdahulu, maka peneliti menganggap bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu. Perbedaan penelitian ini antara lain ingin mengetahui manajemen pembinaan pengawas terhadap kepala madrasah dan guru di Madrasah Aliyah Kota Bandung. Manajemen pembinaan menyangkut semua aspek pembinaan, sehingga sangat luas cakupannya, sedangkan output yang diharapkan adalah peningkatan mutu pembelajaran di Madrasah Aliyah sebagai akibat dari proses pembinaan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar